Minggu, 21 April 2013

AMELIA CANTIKA



Seorang gadis berwajah manis terlihat duduk sendirian di teras rumahnya. Ia duduk pada sebuah kursi goyang klasik yang terlihat mahal. Wajahnya sangat menawan, rambutnya terurari lurus, dan usianya masih sangat muda. Wajahnya tanpa ekspresi, ia tampak sedang termenung. Tatapannya tidak terfokus kemanapun, tatapannya kosong. Entah apa yang sedang dipirkan oleh gadis muda ini, rumput-rumput hijau dan bunga-bunga mawar di depannya seolah tidak menjadi hiburannya.
                Masih dalam tatapan yang kosong, seseorang menghampirinya.
                “Mel, kenapa kamu melamun? Apa yang kamu pikirkan?” Tanya Mamanya cemas.
                “Nggak papa kok Ma. Aku cuman lagi pengin diem aja disini. Hhehe..” ucapnya menenangkan Mamanya.
                Hari itu adalah hari minggu. Dimana sebuah keluarga seharusnya menikmati liburannya bersama. Namun tidak untuk keluarga yang satu ini.
                “Kamu udah makan belum Mel? Makan dulu sana gih, jangan telat makan..”
                “Iya Ma, nanti aku makan. Bentar lagi, lima menit..”
                Maka masuklah Mamanya ke dalam rumah meninggalkan gadis itu sendirian. Selang beberapa menit setelah itu..
                “Mel, cepet masuk sini! Lihat ini, di Dahsyat ada kesukaan kamu. Cepet Mel!” teriak Mamanya dari dalam rumah.
                Amel yang menyadari hal itu, langsung masuk ke dalam. Ia tahu bahwa itu pasti adalah JKT48. Karena Mamanya hafal, kalau anaknya sangat menyukai JKT48. Duduklah Amel pada sebuah sofa di ruang keluarganya sambil menonton JKT48 yang kala itu sedang tampil di Dahsyat.
                Tatapannya yang kosong ketika di teras tadi, mukanya yang tanpa ekspresi, berubah total setelah melihat idolanya yang satu ini. Ia mulai mengeluarkan senyum manisnya, bahkan kadang tertawa. Semangat dan jiwa mudanya seakan kembali setelah tadi sempat hilang entah kemana.
                “Ma, yang di tengah itu cantik banget ya?”
                “Yang mana Mel?”
                “Itu, yang pakai baju pink ada garis kuningnya..” sambil menunjuk ke salah satu member JKT48.
                “Oh, itu.. Siapa namanya Mel?”
                “Panggilannya sama kayak aku kok Ma, Mel juga. Hhehe.. Tapi namanya dia Melody, kalau aku kan Amelia. Hhehe. Aku seneng banget kalau lihat dia, walaupun sama-sama perempuan juga Ma. Nggak tahu kenapa, aku jadi semangat kalau lihat dia. Hhehe..” cerita Amelia panjang lebar.
                Mamanya hanya tersenyum bahagia menanggapi hal itu, sambil kadang menganggukkan kepalanya. Ia mendengar semua cerita anaknya itu. Mamanya sangat bahagia, berbeda dengan ketika berada di teras rumah tadi. Berbeda sekali.
                “Kalau kamu bisa ceria seperti Melody terus menerus Mel, Mama pasti seneng banget..” batin Mama Amelia tiba-tiba merangkul anaknya itu.
                Tak lama kemudian, di acara Dahsyat itu beberapa member termasuk Melody sempat mempromosikan album debut pertama mereka Heavy Rotation. Amel yang melihat hal itu ingin membelinya. Jelas saja, dia sangat menyukai JKT48 terutama Melody.
                “Ma, aku beli album JKT48 yang itu ya?”
                “Iya, boleh kok. Nanti Mama kasih uang..”
                “Nggak usah Ma, kali ini Amel pengin beli pakai usaha Amel sendiri. Amel nggak mau nyusahin Mama kali ini. Amel udah terlalu sering nyusahin Mama. Kali ini, biarin Amel sendiri yang beli pakai usaha Amel sendiri..” jelas Amelia.
                “Emang kamu mau usaha apa Mel?”
                “Ya maksudnya bukan usaha yang kayak jualan atau bisnis apa gitu Ma, Amel pasti nggak bisa. Kondisi Amel sekarang kan seperti ini, Mama pasti tahu kan?” ucap Amelia sedih.
                “Kamu harus tetep berusaha Mel. Kamu pasti bisa sembuh kok, Mama percaya. Kalau kamu punya tekat yang kuat, kamu pasti sembuh. Percaya deh sama Mama..” ucap Mamanya sambil mengelus-elus rambut anaknya itu.
                “Iya Ma.. Amel kan kuat kayak kak Melody, Amel pasti bisa sembuh kok. Hhehe..”
                “Yaudah, kamu beli albumnya pakai uang jajan aja gimana? Katanya mau pakai hasil kamu sendiri? Jadi nanti Mama kasih kamu uang jajan, kalau lebih kamu tabung. Nanti kalau udah cukup, baru buat beli albumnya..”
                “Iya Ma, gitu juga boleh. Hhehe.. Makasih Ma..”

••••

                Hampir dua minggu berlalu sejak kejadian itu. Semakin hari, tabungan Amelia semakin banyak. Namun, masih saja belum cukup untuk membeli album dari idolanya itu. Orang tuanya jadi merasa kasihan padanya. Padahal, bisa saja kedua orang tuanya langsung membelikan album itu untuknya. Namun, karena Amel ingin membeli album itu dengan usahanya sendiri, orang tuanya tidak bisa berbuat apa-apa. Beberapa kali kedua orang tuanya membujuk Amel agar mereka yang membelikan album itu. Namun, karena Amel sudah bersikeras dan tidak mau, orang tuanya tidak bisa berbuat apa-apa.
                “Mel, kamu udah punya album JKT48 yang baru belum?” Tanya teman sekelasnya.
                “Belum nih. Uangku masih belum cukup, aku masih nabung. Hhehe..”
                “Nabung? Kenapa nggak minta orang tuamu aja Mel? Pasti dikasih kan?”
                “Kali ini aku pengin beli pakai usaha aku sendiri..”
                “Halah.. Gaya kamu Mel, sok gitu. Aku sama temen lain udah punya seminggu yang lalu. Kamu ketinggalan. Yaudah lah, aku pergi dulu ke kantin mau makan. Kamu ikut nggak?”
                Amel cukup lapar kala itu. Namun ia sadar kalau kini ia harus berhemat. Maka ia menolak ajakan itu dan memilih untuk menahan laparnya. Toh kurang dari satu jam lagi sudah pulang, pikirnya.
                Benar saja, satu jam tak terasa. Amelia sudah berada dirumah. Kondisi kesehatannya semakin memburuk, kesehatannya menurun. Walaupun ia menderita penyakit kanker hati yang cukup parah, ia tidak mau dilihat sebagai anak yang lemah. Ia tetap menjalani hidupnya seperti sebelumnya, penuh semangat dan impian. Impian bahwa suatu hari ia pasti bisa bertemu dengan JKT48, terutama Melody.
                Amelia membuka loker pada meja yang ada dikamarnya. Ia membuka dompetnya, tempat dimana ia menabungkan uangnya selama ini. Ia menghitung tabungannya itu, jumlahnya masih 70 ribu saja. Ia rasa itu masih belum cukup. Karena album yang ingin dibelinya ada dua tipe, yaitu A dan B. Dimana tipe A berharga 100 ribu, dan tipe B berharga 50 ribu. Ia bingung, sedih, dan perlahan mulai meneteskan air matanya.
                Diingatnya perkataan teman sekelasnya tadi, mereka sudah memiliki album itu seminggu yang lalu. Sedangkan Amelia, hingga kini saja belum punya. Mama Amel melihat anaknya sedih lewat pintu kamar yang terbuka sedikit. Ingin rasanya Mamanya itu membantu anaknya. Namun, karena Amel sudah bersikeras seperti itu, mungkin akan percuma.
                Amel menatap dinding kamarnya, ada poster JKT48 disana. Ia berjalan, lalu menyentuh poster yang cukup besar itu. Dilihatnya wajah Melody, dipeganglah pipi Melody pada poster itu.
                “Melody..” ucapnya lirih.
                “Kamu kenapa Mel?” Tanya Mamanya yang tiba-tiba masuk.
                “Eh, Mama. Nggak papa kok Ma. Hhehe..” jawab Amel kaget sambil menghapus air matanya.
                “Kok kamu nangis?” Tanya Mamanya sambil memeluk anaknya itu sekedar menenangkan hatinya.
                “Amel pengin beli album JKT48 Ma, tapi belum cukup tabungannya..”
                “Yaudah, Mama kasih uang gimana? Kamu mau?”
                “Nggak Ma. Amel nggak mau. Kayaknya Amel mau jual buku-buku Amel yang udah nggak pernah Amel pakai aja Ma..”
                “Buku apa Mel? Emangnya kamu punya buku yang nggak kepakai?”
                “Ada kok Ma beberapa, lumayan bisa buat nambah tabungan. Hhehe..” kata Amel tersenyum.
                “Senyum itu..” batin Mamanya.
                “Mama tahu, kamu pasti sedih banget Mel. Kamu berusaha sampai seperti ini di tengah kondisimu yang sangat jauh dari sehat sekarang ini. Tapi kamu selalu tersenyum seperti itu, seolah kamu tidak memiliki masalah. Mama bangga sama kamu Mel. Mungkin Mama sama Papa bukan orang tua yang baik buat kamu.. Kami nggak bisa buat kamu bahagia, Mama sama Papa Mel..” piker Mama Amel cukup lama yang tanpa disadari lalu meneteskan air mata.
                “Loh, Mama kenapa? Mama kok malah nangis?”
                “Nggak papa kok Mel, Mama bahagia aja punya anak kayak kamu..” ucap Mamanya lalu memeluk anaknya itu semakin erat.
                “Amel juga seneng kok punya orang tua kayak Mama sama Papa. Hhehe.. Sampai kapanpun, Mama sama Papa nggak punya salah sama Amel. Mungkin kalau Mama sama Papa merasa begitu, itu karena Amel aja yang keras kepala. Mama sama Papa selalu baik kok. Hhehe..”
                “Iya Mel, Mama ngerti kok. Yaudah yuk, kita jual buku-buku kamu yang udah nggak kepakai. Mumpung tetangga kita ada yang suka beli barang bekas, mungkin mereka mau..”
                “Iya Ma, ayo..”
                Setelah Amel melepas seragam sekolahnya dan berganti pakaian, ia dan Mamanya pergi ke rumah tetangganya untuk menjual buku-buku lamanya.
                “Berapa Pak semuanya?”
                “Semua ini cuman 20 ribu aja nak..”
                “Yah.. Nggak bisa lebih ya Pak?”
                “Nggak bisa nak. Itu aja udah Bapak naikin, harusnya cuman 17 ribu..”
                Raut muka Amel menjadi sedih. Ia seperti putus asa dan sepertinya ia memang tidak bisa membeli album itu tanpa bantuan orang tuanya. Mamanya hanya terdiam saja.
                “Hmm.. Gimana nih Ma? Masih kurang?” lirih Amel sedih.
                Mamanya diam. Ia ingin sekali langsung member Amel uang untuk membeli album itu. Tapi karena ia tahu Amel tidak ingin menyusahkannya kali ini, sepertinya semua itu akan percuma.
                “Kamu punya barang apa gitu Mel yang nggak kepakai lagi? Siapa tahu bisa dijual juga disini..” saran Mamanya.
                Amel berpikir sejenak. Lalu..
                “Pak, kalau baju bisa nggak dijual disini?”
                “Baju apa nak?”
                “Ya seperti kaos gitu pak, atau gaun..”
                “Bisa kok nak, bisa..”
                “Yaudah, aku ambil dulu ya Pak..”
                Amel bergegas pulang ke rumahnya dan mengambil beberapa pakaian yang jarang ia gunakan. Diantara pakaian itu, ada beberapa gaun yang sebenarnya masih cukup bagus dan sayang untuk dijual. Tapi mau bagaimana lagi, Amel sudah bertekad keras sejak awal untuk hal ini. Maka ini jalan yang ingin ia tempuh.
                “Ini Pak baju-bajunya..”
                “Wah, banyak juga ya nak. Ini udah nggak dipakai? Masih banyak yang bagus ini. Sayang kan..”
                “Enggak pak. Lagian aku juga emang udah jarang pakai itu semua..”
                “Loh, Mel.. Itu gaunnya kan belum lama beli? Masa mau kamu jual juga?”
                “Nggak papa Ma.. Sekali ini aja, ya?” kata Amel meyakinkan Mamanya.
                Maka Mamanya tidak bisa berbuat apa-apa lagi selain mengiyakannya. Mama dan Papa Amel selalu ingin melihat anaknya bahagia. Jika memang ini bisa membuatnya bahagia, meskipun itu membuat hati mereka sedih, mereka akan melakukannya. Apapun itu.
                “Ini nak, semuanya jadi banyak. Soalnya pakaiannya masih bagus, mungkin anak Bapak yang perempuan juga mau..” kata Bapak itu sambil memberikan satu lembar uang seratus ribuan dan satu lembar uang dua puluh ribuan.
                “Makasih Pak. Hhehe..” ucap Amel.
                “Ma, kalau ini pasti cukup. Hhehe..”
                “Iya Mel..” kata Mamanya lirih.

••••

                Tak lama setelah hari itu, Amel sudah memiliki album JKT48 dalam dua tipe, A dan B. Sebelum berangkat sekolah, setelah pulang sekolah, dan malam hari, ia selalu mendengarkan lagu-lagu yang ada pada album itu. Tak jarang ia juga melihat video yang ada pada album tipe A di laptopnya.
                Namun, seiring dengan kebahagiaan Amel itu, berita buruk juga menimpanya. Penyakit yang ia derita selama ini semakin parah. Ya, kanker hati yang di deritanya semakin memburuk dan mengharuskan Amel untuk operasi. Orang tuanya yang mengetahui hal itu tentu saja sedih. Dikala anaknya sedang dalam harmoni kebahagiaan, penyakit yang berbahaya itu justru datang dan semakin mengancam.
                Terasa begitu cepat, segalanya kini berubah. Wajah Amel yang dulu selalu berseri kini menjadi pucat. Senyuman yang menawan darinya kini juga jarang dilihat oleh orang tuanya. Meskipun begitu, nama Melody masih saja ada di dalam pikirannya.
                “Ma, Pa, Amel pengin banget Melody bisa ada disini jenguk dan lihat kondisi aku. Aku pengin banget bisa ketemu dia.. Walaupun aku sekarang sakit-sakitan begini, aku pasti tetep bisa semangat kalau ketemu dia. Hhehe..” ucap Amel lirih.
                Suaranya sangat kecil. Kondisinya bahkan membuatnya sulit untuk berbicara dengan suara yang keras dan jelas. Orang tuanya merasa bersalah karena tidak bisa berbuat apapun untuknya. Berkali-kali Mamanya meneteskan air mata melihat kondisi anak tercintanya itu. Begitu pula Papanya. Tak lama lagi operasi yang menentukan hidup Amel akan dilakukan. Kurang dari 24 jam itu akan terjadi.
                “Ma, Pa.. Amel mau cerita boleh nggak?”
                “Boleh kok Mel.. Cerita aja..” kata Papanya.
                “Amel bersyukur banget bisa punya Mama sama Papa kayak kalian, yang selalu sayang sama Amel walaupun aku kadang keras kepala. Yang selalu jagain Amel dan besarin Amel sampai 13 tahun seperti sekarang ini.. Pasti susah ya ngerawat anak yang keras kepala kayak Amel ini? Hhehe.. Maafin Amel ya Ma, Pa, kalau Amel punya salah.. Amel janji, Amel akan sekuat tenaga jalanin operasi nanti. Dan Amel berharap semuanya berjalan lancar. Mama, Papa, sama keluarga bantuin doa juga ya? Biar Amel cepet sembuh.. Hhehe…” cerita Amel lirih.
                “Iya Mel, kamu kuat kok. Kamu pasti bisa sembuh dan main sama Mama, Papa lagi..” kata Papanya. Papa Amel lantas menutup mulutnya, ia menangis. Air matanya semakin lama semakin banyak yang menetes. Ia berjalan keluar kamar rumah sakit itu, menyandarkan kepalanya pada dinding dan menangis. Membayangkan banyak hal yang mungkin akan terjadi.
                Sementara Mamanya, ia hanya bisa mengelus-elus rambut lurus Amel. Ia ingat, bahwa ia lah yang mengandung Amel dan membesarkannya sampai menjadi gadis yang cantik. Tangisnya tak terbendung. Bahkan Amel juga demikian karena melihat kedua orang tuanya yang seolah tak berdaya.

••••

                Waktu operasi pun tiba. Ketika operasi sedang berlangsung, Papa, Mama, dan keluarga Amel lainnya hanya bisa menunggu diluar ruang operasi. Doa dan harapan yang baik selalu mereka harapkan untuk Amel. Tak henti-hentinya Mama Amel menangis meratapi semua ini. Bagaimana bisa anaknya yang masih sangat muda harus menderita semua ini? Hanya Tuhan yang tahu.
                Didalam ruang operasi, pada alam bawah sadar Amel, ada banyak memori dalam hidupnya. Ketika ia tersenyum bahagia bersama Mama dan Papanya, ketika ia mendengarkan album JKT48 dengan senangnya, dan semua memori indah lainnya. Hanya ada beberapa detik sebelum semuanya ditutupi dengan cahaya gelap. Perlahan-lahan, cahaya terang mulai menghilang. Kesadarannya menurun, seiring bergantinya cahaya terang dengan kegelapan yang ada pada alam bawah sadarnya..
                “Melody, Melody, Melody.. Kau tampak jauh dariku, semakin jauh rasanya. Jauh sekali.. Hingga melihatmu seperti setitik semut, lalu hilang lenyap ditelan bumi. Aku bersedih, menangis, pahit rasanya tidak bisa bertemu dengannya..”
                Dan beberapa detik setelah itu..
                “Bagaimana dok?”
                “Sepertinya sudah tidak bisa diselamatkan lagi..”
                Dokter, asisten, suster, dan semua orang yang melakukan operasi itu tidak berhasil menyelamatkan nyawa Amel. Amel telah meninggal dunia. Dibawalah jenazahnya itu keluar dari ruang operasi. Keluarga yang ada diluar sangat kaget dan menangis, terutama Papa dan Mamanya. Tak ada yang menyangka ini akan terjadi, tak ada. Semua terasa berbeda, semua berubah. Bahkan Bapak-bapak yang belum lama membeli buku dan pakaian Amel itu pun turut hadir dan tak percaya.
                “Belum lama rasanya anak itu berbincang denganku..” batinnya.
                Ya, tepat pukul 18.00 WIB Amel menghembuskan nafas terakhirnya. Tepat ketika adzan sholat Maghrib berkumandang, ia pergi dari dunia ini. Meninggalkan teman-temannya, terlebih keluarganya. Semua orang dekatnya tak percaya, terutama kedua orang tuanya. Rasanya belum lama mereka bisa melihat Amel tertawa lepas sekali setelah memiliki album JKT48 itu. Album yang susah payah Amel dapatkan dengan menjual buku dan bajunya. Masih ada satu mimpinya yang belum terwujud, yaitu bertemu dengan JKT48, terutama Melody. Amelia Cantika.. Gadis yang masih sangat muda, 13 tahun harus pergi meninggalkan semua kenangan manisnya..
                “Sesungguhnya kami adalah milik Tuhan dan kepada-Nya lah kami akan kembali..”

Melody JKT48

                Selamat jalan Amelia Cantika. Kamu adalah bagian dari JKT48 dan fans. Kami akan selalu bersamamu..

Tribute to : Amelia Cantika.

Author : @hilmanfarizan94


Read more: http://www.jkt48fans.com/2013/04/amelia-cantika_11.html#ixzz2R5RYec4Q

0 comments:

Poskan Komentar