Senin, 10 Juni 2013

AJARI AKU BAGAIMANA MERAIH MIMPI


Dialah Beby. Cantik, manis, dan pintar. Wasfi terkadang merasa minder apabila berada di dekat Beby. Wasfi bisa dibilang beruntung sekali bisa dekat dan akrab dengan Beby. Meskipun Wasfi agak telmi tapi Beby tidak pernah bosan untuk memberikan advice atau nasehat-nasehat yang membuat Wasfi semangat dan bangkit kembali. Duh, Beby di mata Wasfi adalah sebagai guru sekaligus cewek ‘super’. Belum ada yang bisa menandingi Beby. Baru kali ini kayaknya Wasfi bisa menilai sosok cewek yang betul-betul baik dan sempurna. “Kau begitu sempurna di mataku kau begitu indah…..” begitu Wasfi menyanyikan lagunya Andra and The Backbone setiap Wasfi menghayalkan sosok Beby di kamarnya.Sampai tidak terasa sudah setahun persahabatan mereka berdua, tanpa disadari ada perubahan dalam diri Wasfi. Beby bukan saja sebagai teman. Tapi lebih dari itu. Entah darimana awalnya perasaan itu. Atau seringnya kebersamaan dapat menimbulkan cinta?

“Bisa juga begitu Fi” kata Ade suatu ketika mereka bertemu, ”karena sering bertemu bisa menimbulkan cinta. Tapi apa kamu nggak takut kalau persahabatan kamu rusak gara-gara cinta?” Ade mencoba memberi pandangan.

“Iya juga tapi mau bagaimana lagi De? Cinta kan nggak bisa ditahan kapan mau datangnya?”

“Benar, Fi, kamu tahu nggak? Cinta adalah api yang dingin. Siapa yang mendekatinya tidak akan terbakar tetapi tertangkap”

“Huu, omonganmu seperti profesor. Lagi encer, ya pikiran kamu?.”

“Iya dong, memangnya kamu, Fi! Tahunya cuma pacaran doang. Nggak tahu makna sebenarnya apa itu cinta ”

“Halah De….ini juga kamu lagi kadang-kadang pinternya. Cuma gara-gara tadi makan bakso Malang aja, kan mangkanya pikiran kamu encer?”

“Hahaha….!” Keduanya tertawa bersama melepas kejenuhan.

Hari itu Wasfi merasa gelisah. Entah kenapa Beby begitu kuat melekat dalam pikirannya. Wasfi mencoba untuk bersikap biasa seperti hari-hari sebelumnya. Huh, tetap tidak bisa juga. Sampai suatu ketika ada yang tidak beres terjadi pada Beby. Tadi dia menelpon Wasfi dan cerita panjang lebar tentang perlakuan Joko. Wasfi panas mendengarnya, Wasfi cemburu. Berani-beraninya Joko nggodain Beby. Menyakiti Beby. Dalam kamus Wasfi adalah jangan sampai Beby disakiti oleh siapapun.

“Kamu tenang ya, Beb” bujuk Wasfi kepada Beby. “Kamu gak usah terlalu sedih begitu. Kan masih ada aku”

“Iya, makasih Fi” Terdengar isak tangisnya tersendat-sendat dari seberang sana. Wasfi semakin trenyuh mendengarnya.

Dimatikannya handphone. Dipikirkannya baik-baik cara membalas sakit hati Beby. Hmm….Wasfi sudah gelap mata. Tangannya mengepal keras. Dan benar keesokan harinya Beby mendengar kabar Joko sudah berada di rumah sakit. Mukanya babak belur, matanya bengkak, hidungnya berdarah dan masih banyak lagi. Tapi mengapa tiba-tiba Beby datang ke rumah Wasfi malah melabraknya habis-habisan. Beby marah besar kepada Wasfi.

“Pokoknya aku nggak mau menganggap kamu sahabat aku lagi. Aku nggak mau meliat kamu lagi,Fi . Kamu jahat!” begitu ancaman Beby sambil meninggalkan Wasfi.

Wasfi bingung. Belum sempat Wasfi bertanya kenapa, Beby sudah pergi meninggalkan Wasfi. Aduh, ada apa dengan Beby? Kok tiba-tiba marah seperti itu. Tidak biasanya Beby semarah itu. Hancur sudah. Semua kenangan manis waktu bersama Beby musnah. Tidak ada lagi cewek ‘super’ dalam diri Wasfi. Tidak ada lagi cewek cantik sekaligus guru dalam diri Wasfi. Sampai-sampai Wasfi mendengar kabar Beby pacaran dengan Joko.

“Pantas saja Beby marah besar. Rupanya Beby nggak rela kalau Joko aku labrak?” bisik hati Wasfi.

Bertambah pilu hati Wasfi. Hilang harapannya untuk mendapatkan Beby. “Kenapa dulu tidak aku ungkapkan saja perasaan cintaku pada Beby?” Sekarang Wasfi sudah benar-benar merasa kehilangan. pegangan.

Sejak itu Wasfi menjadi banyak melamun. Apalagi ketika berpapasan dengan Beby di jalanpun Beby cuek saja. Seakan-akan tidak pernah mengenal Wasfi. Wasfi cuma bisa menatap Beby dari kejauhan. Tanpa bisa menggandeng lagi tangannya, tanpa bisa lagi bercanda dengan Beby. Gone with the wind. Terbang bersama angin.

Siang itu matahari begitu terik. Biasanya siang hari begini terasa begitu sejuk karena waktu itu berjalan bergandengan tangan bersama Beby. Sambil bercanda bersama sepanjang jalan. Terasa sekali Wasfi kini sendiri. Entah sampai kapan sendiri itu terus berlanjut.

Tiba-tiba Lamunan Wasfi buyar ketika di hadapannya telah hadir lima orang anak muda. Wajahnya sangar. Tubuhnya tinggi tegap.

“Heh, kamu Wasfi, ya?” tanya salah seorang dari mereka. Wasfi mengangguk. Belum sempat Wasfi bertanya apalagi berpikir wajahnya sudah dihajar. Bak ! Buk! Brak! Aduh! Auw!. Huh, five in one!. Tidak tanggung-tanggung lima lawan satu. Jelas sekali Wasfi sekarang yang babak belur. Masuk rumah sakit. Sepi. Sunyi. Dimana-mana serba putih termasuk perban di wajahnya. Hmm, kasihan Wasfi. Kini hanya bisa tergolek lemah tak berdaya. Cuma ada seseorang wanita yang rajin menemani Wasfi yaitu Shania. Teman sekelas Wasfi. Setiap waktu Shania yang selalu menemani Wasfi sambil membawa segala macam makanan dan buah-buahan. Cerita sana-sini untuk menghibur Wasfi.

Tiba-tiba timbul dalam hati Wasfi cewek super selain Beby. Betulkah Shania cewek super pengganti Beby? Shania yang selalu menemani Wasfi di saat Wasfi menderita, Shania yang selalu bercerita tentang mimpi-mimpi indah, tentang apa itu cinta. Ya, Shania yang telah menemukan Wasfi dalam keterasingan. Dalam ketakberdayaan. Dalam kesendirian.

“Makasih ya, Shan, kamu sudah menyempatkan waktu buat menemaniku” suara Wasfi lemah. Sambil menahan sakit di bibirnya yang pecah terkena bogem mentah lima pemuda tempo hari.

“Ah, nggak usah sentimentil begitu. Aku ikhlas kok. Bukan saja karena aku sayang kamu, tapi karena aku hanya ingin menjadi orang yang kamu butuhkan di saat apapun” suara Shania serak karena tertahan oleh air mata yang membasahi pipinya.

“Maafkan aku Shan, aku sudah tidak mempedulikan kamu selama ini?” kata Wasfi sambil menyeka air mata Shania dengan telapak tangannya.

“Tidak apa apa, Fi. Aku menyadari itu. Kamu tidak mencintaiku”

Mata Wasfi basah. Dipandanginya Shania. “Dalam bening bola matamu, kau pandang aku, dalam putihnya hati kita, entah aku yang membutuhkanmu atau kamu yang mencintaiku?” hati Wasfi terus bergumam. Menilai-nilai apakah Shania telah hadir untuk mengusir kesepiannya, untuk mengisi relung hatinya yang paling dalam…?

Beruntung Wasfi cepat sembuh. Seperti biasa Wasfi berangkat ke sekolah namun tiba-tiba matanya menangkap dari kejauhan Joko dan komplotannya petentang-petenteng. Semakin angkuh sambil menggandeng Dhike. “Cewek mana lagi tuh yang digandeng Joko?” Bisik hati Wasfi. Pikirannya langsung tertuju kepada Beby. jangan-jangan telah terjadi sesuatu terhadap Beby. Terus berkecamuk. Gelisah. Hingga jam istirahat Wasfi meminta ijin untuk pulang sekolah lebih cepat. Dan langsung ke rumah Beby.

Sampai disana benar juga telah terjadi sesuatu. Kelihatan Beby habis menangis. Matanya merah, basah oleh air mata.

“Joko sudah mutusin aku, Fi” suara Beby sambil menangis. Wasfi sedih mendengarnya. “Aku terlalu bermimpi” kata Beby kembali. “Padahal aku nggak tahu cara-cara meraih mimpi. Dulu aku terlalu menaruh harapan-harapan manis kepada Joko, hingga aku tega melupakan kamu, Fi. Sekarang aku menanggung akibatnya. Kamu dulu pernah memberikan pelajaran bagaimana caranya meraih mimpi tapi aku yang bodoh tidak mau menuruti kata-kata kamu. Sekarang pasti kamu nggak mau menerima aku lagi. Iya kan, Fi?”

Wasfi kebingungan. Baru kali ini Wasfi melihat Beby menangis. “Beb, aku nggak pernah melihat matamu menangis saat kamu menatap angkuhnya dunia, bibirmu tak pernah berucap sesal saat kamu hadapi berjuta kegetiran. Namun sepenggal cinta telah mampu mengoyakkan indahnya matamu hingga kering airmata, sepenggal cinta telah mampu menggetarkan bibirmu untuk berucap cinta”

Tangan Wasfi memeluk erat tubuh Beby. Ada rasa rindu bergelayut dalam dadanya. Ada rasa kangen bersemayam dalam hatinya. Pikirannya dipenuhi seribu tanya sejuta bimbang. Tiba-tiba terbayang wajah Shania. Cewek ‘super’ yang selalu menemani Wasfi saat Wasfi mengalami kesusahan, yang selalu memberi semangat saat Wasfi patah semangat. Sekarang Wasfi dihadapkan kembali pada sosok diri Shania, cewek ‘super’ yang sudah pertama kali sanggup membuat Andre uring-uringan. Apa benar cinta sejati datang pada saat cinta pertama, dan cinta selanjutnya adalah cinta yang dibuat dengan perhitungan? Sekarang Wasfi dituntut oleh dua kenyataan. Beby dan Shania. Mereka sama-sama cewek ‘super’. Sama-sama memberikan kesan manis. Sekarang Wasfi yang merasa bodoh. Wasfi tidak mampu meraih mimpi-mimpi manisnya. Wasfi tidak punya lagi guru yang super yang bisa mengajarkan bagaimana caranya meraih mimpi, bagaimana caranya meraih harapan-harapan manis. Wasfi tidak mampu…--- TAMAT ---

Create by. Wasfi Qordowi

0 comments:

Poskan Komentar