Jumat, 07 Juni 2013

Penggantimu

Aku termenung ditepi pantai ini, tempat dimana dulu kita menghabiskan waktu disini. “sudah berminggu – minggu aku mencarimu, bertanya pada orang yang mungkin tahu keberadaanmu, Aku minta maaf karena dulu aku pernah meninggalkanmu Mel, aku terpaksa melakukannya demi kebaikan kita bersama Mel.” Pikirku. Langit sore sudah meremang, tapi aku masih disini, berharap tiba – tiba kau datang padaku diam – diam sambil mengejutkanku. “ Melody, datanglah, aku ingin menjelaskan padamu alas an aku meninggalkanmu dan memintamu menungguku sampai waktu yang tak terbatas. Kumohon datanglah”
      Ckreek !
      Tiba – tiba aku melihat kilatan lampu flash. Tampaknya seseorang telah mengambil fotoku dari belakang tanpa sepengetahuanku. Aku membelokkan badan dan teryata dugaanku benar. “Apa yang kamu lakukan? Aku tidak suka kalau ada yang memotretku tanpa izin.” wanita itu tidak memperdulikanku dan masih menatap kamera DSLRnya. ”ah maaf, aku tidak sengaja kok, hanya saja kau terlihat begitu menyatu dengan sekitar, makanya kupotret. Kalau kau tidak suka kau boleh menghapusnya kok.” katanya sambil menyerahkan kameranya padaku. ” hapus saja sendiri”ujarnya. Entah apa yang kupikirkan. Aku tidak suka dipotret orang apalagi orang yang tidak kukenal. Aku ingin sekali menghapus fhoto itu, tapi hatiku tidak memperbolehkanku melakukannya. ”Tidak usah, kalau kau mau kau bisa menyimpannya”. Kataku. ”sungguh? Makasih ya.” katanya senang. ”Friska” katanya sambil mengulurkan tangan dengan senyuman yang indah. ” Galang” kataku membalas uluran tangannya. Tak terasa malam ini kuhabiskan waktu bersama Friska sampai larut. Dan selama itu aku sama sekali tidak memikirkan Melody. Kehadiran Friska semakin membuatku merasa bersalah pada Melody. Bisa – bisanya aku bersama wanita lain dan melupakannya. Aku tidak tahu, sungguh. Semua mengalir begitu saja. Aku berharap kau tidak marah padaku Mel, aku hanya mencintaimu seorang.
      ”Jadi kau pergi meninggalkan gadis itu karena terpaksa?” kata Friska. ” Iya” kataku ”Kok bisa?” katanya agak bingung. ”Perusahaan ayahku bangkrut karena ditipu orang. Kami terpaksa pindah kekota lain utuk memulai kehidupan baru dari nol hingga seperti sekarang.”kataku panjang lebar padanya. Ia hanya mengangguk – anggukkan kepala. Friska adalah gadis yang manis, entah mengapa sorot matanya sama dengan sorot mata Melody. Friska memegang bahuku. ”Lang, mendengar ceritamu aku jadi iri pada gadis itu, meski aku tidak tahu siapa gadis itu tapi aku berani taruhan dia adalah gadis yang beruntung.” katanya. ” Aku jalan – jalan dulu ya, mau lanjut fhoto – fhoto.” katanya sambil berjalan meninggalkanku.
      ” Galang, selamat tinggal, aku harap kamu bahagia bersamanya. Terima kash untuk semua cinta yang kau ber.” suara itu lembut, tapi masih jelas bagiku untuk memastikan bahwa itu suara Melody. Tapi aku berpikir mungkin itu hanya ilusinasiku saja. Tak lama kemudian Friska kembali, ”titip kameraku ya, aku mau kekamar kecil” katanya. Sambil menunggu Friska kembali aku melihat fhoto – fhotonya, aku mencari fhotoku tapi sebelum aku menemukannya Friska sudah kembali. ”Liat – liat apa?”katanya.ah tidak kok,” kataku mengembalikan kameranya. Lang, nagaimana kalau kita fhoto berdua? Aku nggak punya fhoto kamu.” katanya. ”untuk apa?” tanyaku ”untuk kenang – kenangan” ”ya udah” kataku. Kamipun berfhoto bersama tak lama setelah itu kamipun pulang.
      Beberapa hari ini aku tidak bertemu dengan Friska, aku mencoba mencari informasi tentang Melody. Sampai secara tak sengaja aku menemukan informasi tentang keluarga Melody dari seorang teman lama. Segera kumelesat menuju alamatnya. Didepan rumah itu, rumah keluarga Melody aku menaruh sejuta harap. Keketuk pintu rumahnya, keluar perempuan yang mungkin berusia 40an. Aku bertanya padanya tentang Melody tapi jawabannya membuat hatiku hancur. Ia mengabarkan bahwa Melody telah meninggal dunia. Dia memberi tahukan tempat dimana Melody dikuburkan. Segera kubergegas menuju tempat itu. Disana aku menemukan seseorang yang mungkin kukenal sedang berziarah dikuburan Melody.
      ”Siapa kamu sebenarnya?” kataku pada gadis itu. Gadis itu terkejut dan membalikkan badan. ”Galang? Kenapa kamu disini?” kata Friska. Ya gadis itu adalah Friska. ”apa hubungan kamu dengan Melody.Fris?” kataku menyelidik. ” Dia Kakakku, kau belum menjawab pertanyaanku, kenapa kamu disini?” katanya heran. ” Friska, tahukah kau orang yang selama ini kucari? Dia adalah kakakmu Fris, Melody.” kataku padanya. Dia seperti ytak percaya bahwa gadis yang selama ini kuceritakan padanya adalah kakaknya. Setelah selesai berziarah diperistirahatan terakhir Melody, aku mengantar Friska pulang. ”Fris, kau tahu penyebab kematian Melody?” kataku ” Dia kecelakaan mobil, Lang.” katanya sedih. Aku juga sedih. Kuputuskan untuk tidak bertanya lebih banyak. Aku tak ingin membuatnya lebih sedih.
      Beberapa hari kemudian.....
      Aku tersentak bangun dari tidurku ketika ponselku berbunyi, kuangkat telponnya tanpa melihat siapa yang menelepon. ”Galang, kamu dirumahkan sekarang?” suara Friska. ”Hoeeemmm... Iya...” kataku dengan nada khas orang baru bangun tidur. ”Woy, sudah jam 9 nih, masa belum bangun sih? Aku lagi di studio nih, mau nyetak photo kamukemarin. Entar siang aku kasih photonya kekamu ya?” katanya. ”tapi kamu mandi dulu. Aku gak mau ada hawa gak sedap kalau aku kerumahmu nanti.” katanya lagi. ”Iya cerewet” kataku. Setelah menutup telponnya, aku langsung kekamar mandi. Tak lama kemudian Friska datang.
      ”Hey Fris, mana photonya?” kataku. Dia agak bingung, lalu mencari sesuatu ditasnya. Dia mengeluarkan dua lembar photo dan memberikannya padaku. “aku sama sekali gak tahu tentang photo ini Lang, aku sama sekali tidak mengeditnya.” katanya. Kpandangi photo itu yang satu wajar, photoku bersama Friska beberapa hari yang lalu. Dan yang satunya membuatku tersentak kaget dan nyaris jantungan. Itu photo pertamaku yang diambil Friska tanpa izin. Diphoto itu, terlihat aku sedang duduk dan ada sebentuk bayangan tipis disampingku. Seperti Melody. ”Bilang padaku kamu mengeditnya Fris,!” kataku tak percaya. ” Aku sungguh sama sekali tidak mengedinya. Aku berani sumpah. Katanya
      ”Galang, Friska benar. Dia sama sekali tidak mengeditnya. Aku benar ada disana waktu itu, menemanimu. Friska adalah gadis yang baik, dia pantas untukmu Lang. Aku mohon padamu jangan mengharapkanku lagi. Kita sudah berada didunia berbeda.” suara itu terdengar lagi, suara Melody. ”Kau dengar suara itu Fris?” tanyaku. ”Suara apa? Aku tidak mendengar suara apapun dari tadi. Jangan menakutiku.” Friska terlihat agak takut. ”Tak apa Fris, mungkin Cuma perasaanku.” kataku
      Setelah kejadian itu, aku dan Friska makin dekat, dan kamipun jadian. Pelan – pelan aku bisa melupakan Melody. ”Mel, terima kasih untuk cinta yang kau beri dan terima kasih juga telah mencarikan penggantimu yang sama sepertimu, Friska. Aku sayang kamu Mel, aku juga sayang kamu Friska.” bisikku.

      Oleh : Maysarah
      @Maysarah1412

0 comments:

Poskan Komentar