Jumat, 07 Juni 2013

Sayonara Daisuki No Hito

Panasnya matahari, mulai menyengat kulit, saat itu sudah menunjukkan pukul 09.45 WIB. Aku dan 11 orang temanku—ada Hendra, Adit, Vansyah, Azam, Etsa, Bang Puguh, Andka, Pandu, Samsul, Bhima, dan Iwan—berlatih sepakbola di Lapangan Rampal, Malang. Kami menyiapkan diri untuk mengikti seleksi Chelsea Academy—itu di selenggarkan di beberapa kota besar, antara lain, Jakarta, Surabaya, Makassar, Palembang, Solo, Bandung, dan tak terkecuali Malang—“Gun.. Pindah bola, sob!!” teriak Iwan padaku, di saat itu aku tengah mendribble bola, dan aku di hadang oleh Bhima—Team dibagi menjadi 2 pihak, Team J dan Team K. Seharusnya Team T, sudah datang, tapi tidak jadi karena mereka mengalami kelelahan setelah ikut lembur, PSG di sekolah. Dan masing-masing terdiri dari 6 orang, Team J, antara lain, Aku, Vansyah, Iwan, Samsul, Pandu, dan Adit. Team K, yaitu, Etsa, Azam, Bang Puguh, Bhima, Hendra dan Andika—kemudian, aku mem-pass bola ke Iwan, dan dia angsung melakukan tendangan ‘First Time’ ke gawag yang di kawal oleh Etsa. Dan terjadilah gol, dan gol dari Iwan itu juga mengakhiri latian kami di pagi ari tersebut. Skor Ahir ialah, 4-8. 4 bagi kami, dan 8 bagi Team K. Benar-benar pertandingan yang seru, dan di penuhi canda tawa. Meskipun kami kalah, itu bukanlah masalah, karena tantangan yang sebenarnya telah menanti. Yaitu, Chelsea Academy Selection. Sekitar 145 menit kami latihan—dengan waktu istirahat 15-20 menit—yang dimulai sejak pukul 7 pagi, dan hari itu adalah hari Minggu. Kemudian, setelah lelah berlarian mengejar bola, kami pun memutuskan untuk beristirahat, ada yang bermain handphone—Facebook, Twitter dsb—bercanda, mengobrol masalah sepak bola, dan hal yang lainnya. Saat itu aku lihat Azam, dia tampak murung, lalu, aku datang menghampirinya.” Hoi, Zam.. Kenapa bengong aja lu??” tanyaku sambil menepuk pundaknya Dia kaget. “Hah.. apa??” refleksnya. “kok kliatan sedih, sob??” “huuft.. gw lagi sedih, sob..” curhatnya. “hoho, sedih kenapa, lu?? Aku berusaha mencari tahu apa permasalahan yang di hadapinya. “Ochi, sob..” sahutnya. “Kenapa Ochi, sob??” lu berantem ya ma dia??” tanyaku—Ochi adalah salah satu perempuan yang paling di idam-idamkan di sekolah, dan Azam sanga mencintai dan menyayangi Ochi, perjuangan cinta dari Azam pun tidak dapat dilihat dengan sebelah mata, karena menurutku, Azam adalah type pria yang setia—Azam pun bercerita padaku—sementara teman-teman yang lain, sedang asyik sendiri—

        “Wah.. kalau kaya gitu caranya, gue bisa galau seengah hidup, sob.. eh, salah, setengah dewa, sob..” sahutku dengan nada menghibur. Tiba-tiba handphone, si Hendra, berbunyi. . lantas, dia segera mengangkatnya. “Halo? Oh, Shanju! ..iya-iya, ini lagi mo persiapan pulang kok..” tampaknya Shanu menelpon, menyuruhnya pulang—Shanju adalah pacar dari Hendra, mereka sudah jadian, sekitar 3 bulan lalu—“sob.. gue pamit pulang dulu ya..” kata Hendra sambil berdiri dari tempat ia duduk beristirahat bersama aku dan teman-teman yang lain, “ane ikutan, Ndra..” sahut Andika—mereka beruda, memiliki kakak perempuan yang sama, yaitu Jessica Veranda, atau biasa dipanggil VE—“oke, boy! Ati-ati!” sahutku sambil melambaikan tangan kananku kepada mereka berdua. “Assalamuallaikum..” kata Hendra, “Waallaikumsalam..” sahutku dengan teman-teman kompak. Tak lama kemudian, Bang Puguh, Bhima, Adit dan Etsa juga pamit pulang. Bang Puguh—dia adalah kakak kelasku dulu, dan kini sudah kuliah, dan dia juga adalah pacar adikku, Achan—pamit untuk pergi jalan-jalan dengan adikku, Achan. Bhima—Dia juga kakak kelasku dulu, tapi berbeda kelas dengan Bang Puguh, Bhima juga 1 kuliahan dengan bang Puguh—pulang dengan nak motor untuk menjemput Kak VE, ceweknya di tempat kuliahnya—sedangkan Adit dan Etsa, mereka pulang memang pulang lewat jalan yang berbeda. Mereka juga menyukai perempuan yang menjadi idol di institusi masing-masing, Yaitu, Teh Melody yang 1 kuliah dengan Kak VE, dan Rena—Teh Melody, kakak kelasku dulu, yang sangat. Dia mempesona, banyak laki-laki yang bermimpi untuk memilikinya. Dia adalah kakakku. Aku sangat beruntung memiliki kakak seperti Melody—Sedangkan Rena, cewek yang selalu membuat hati Etsa berdebar-debar tiap kali menatap matanya dan membuat hatinya berbunga-bunga, dia adalah siswi dari Negeri Sakura, Jepang—pada saat itu ada pertukaran siswa dan siswi, dan Indonesia melakukan pertukaran pelajar dengan Jepang, untuk saling memahami culture budaya masing-masing Negara dan Study Banding.

         Aku selalu tertawa jka melihat tingkah laku Etsa dan Azam ketika menggoda Rena dan Ochi. Sayang, mereka berdua masih ragu-ragu untuk menyatakan cintanya ke oshimen masing-masing. Lalu yang tersisa di pos dekat Lapangan Rampal—tempat kami beristirahat usai bermain bola tadi—hanya ada aku, Pandu, Vansyah, Azam, Samsul dan Iwan—Vansyah dan Iwan menyukai gadis yang sama dan gadis itu memang jadi primadona di sekolah kami, Yaitu, Nabilah. Adik kelas yang cantik dan mempesona, tapi, aku sama sekali tidak tertarik, karena aku sudah punya bdadari impianku sendiri—Tiba-tiba, Azam menerima sms dari Ochi, “Zam, cepet pulang. Aku mo ngomong sama kamu..” kubaca sms itu, saat Azam menunjukkan Handphone nya ke arahku. “ya udah, sob.. pulang, gih.. udah di tunggu tuh..” jawabku. “oke,sob.. thanks ya, udah mau ndengerin curhatku” “relax, bro.. itlah gunanya temen.. temen lagi sedih, ya di bantuin, bukan malah di cuekin ataupun di buat makin sedih.” Sahutku. Kemudian dia pun segera pulang, diiuti Pandu yang sudah ditunggu Beby di tepi jalan sambil membawa motor dan Helm—Pandu dan Beby juga sudah berpacaran, tapi masih berumur jagung, baru 3 hari yang lalu—Tinggalah kami ber-empat, Team inti dari Aremation Football Team—diambil dari nama Studio Animasi kami, Aremation, merupakan team yang beranggotakan 9 orang Crew Aremation Studio, dan kami sebut ‘Team’ karena hanya berisikan 9 orang inti saja—“Gimana nih, bro?? Seleksi udah bakal mulai tanggal 11 November!” ucap Vansyah membuka pembicaraan, “iya, ane tau, van.. kita udah persiapan selama 2 bulan ini, ap, kaga tau, bisa lolos ato kaga..” sahut Samsul. “Lu pada pesimis, guys?? Where’s your passions, boys?? Do you even won’t pass out this selection?? Ujarku memberi semangat. “Gue setuju ama Gunung, kalian kaga ada semangatnya guys. Ayo dong, kita harus optimis, kita sudah berusaha, sekarang, kita tinggal berdoa, dan pasrah pada Allah SWT.” Ucap Iwan menasehati. “Betul juga lu, Wan..” kataku. Kami berempat pun tertawa bersama, di tengah terknya matahari,. Dan saat itu jam mulai menunjukkan pukul 11.45—saat itu aku mengeluakan handphoneku dan menengok jam, di Screen Server dan Walpapper, terdapat foto Stella, Minano Daisuki—
Tiba-tiba, si Azam mengirimiku sms, langsung ku baca sms tersebut, yang berisikan “Sob, tadi Ochi sms gue ngajak ketemuan, ternyata dia nembak gue! Gue sih awalnya kaget, eh, ternyata dia serius, sob! Ahkirya gue jadian ma Ochi, Alhamdulillah, seneng banget gue hari ini, sob!! Thanks, broo!! Oh, ya si Etsa tadi juga, nyoba nembak Rena, ternyata diterima juga.. hahaha..” itulah isi sms yang dikirim oleh Azam. Aku tertawa membaca sms itu. Dan kawan-kawanku kaget melihatku tersenyum sendiri dan tertawa. “Gun.. knapa, lu?? Jangan jadi gila ya.. gara-gara di tolak sama Cici Stella—pada waktu itu, aku pernah nembak Stella, karena dia sudah lebih dulu jadian dengan Adit, dia menolakku dengan halus dan sopan, dan memintaku untuk menjadi sahabatnya—“huss, kasian Gunung, Wan..” serobot Vansyah menasehati Iwan. “hahaha.. gapapa, Van..” jawabku dengan sedikit senyum.—Cici Stella memang gadis yang paing aku sukai dan ku dambakan sejak pertama aku masuk sekolah SMK ini, waktu itu aku lihat dia pergi kuliah dan satu kuliah dengan Teh Melody, Kak VE, Bang Puguh, dan Bhima. Aku pun banyak bertanya tentang Stella ke mereka berempat—Suaranya Stella yang merdu, lembut, membuat jiwaku melayang, sayang, hatinya sudah di miliki oleh temanku, Adit—memang, saat mendengar ucapan Iwan, hatiku sempat sakit, tapi itu tidak apa-apa, dia hanya bercanda saja—“sabar, sob. Ntar juga Stella putus kok ma Adit..” sambil menepuk-nepuk pundakku, Samsul berusaha menghiburku. Tak sampai 60 menit, adzan pun berkumandang, tepat jam 11.17 WIB. Kami pun berhenti ngobrol sejenak, untuk mengikuti kalimat Adzan yang di ucapkan oeh Muadzin. Setelah Adzan berakhir, kami pun berdoa—doa setelah mendengar Adzan—Kemudian kami pun beranjak pulang.

         Vansyah dan Iwan, pulang menaiki sepeda motornya masing-masing, begitupun Samsul, mereka pulang, dan pergi ke sekolah ataupun tempat lainnya, melalui jalan yang sama—sementara kau, sudah di tunggu adikku, Jeje di tepi jalan. Aku langsung menghamprinya, “dedek..” sapaku. “hai, kakak.. capek banget ya abis main bola?” tanyanya sambil menebar senyum manisnya. “capek banget.. udah panas, haus, gerah lagi..” keluhku. “sabat ya kak. Bentar lagi juga kita pulang.” Jawabnya sambil mengusap keringat yang mengalir di pipiku dengan sapu tangannya yang harum. Kemudian, aku kembali ke dekat pos tadi, untuk mengambil sepeda motorku yang ku parkir dekat pos. Lalu, aku nyalakan mesin, ku pakai helmku dan mulai menjalankan motorku menuju tempat Jeje tadi, untuk segera pulang ke rumah. Sekitar 15 menit perjalanan, kami pun sampai di rumah—saat itu Jeje juga baru pulang sekolah—“Kak, mandi, terus solat gih..” katanya mengingatkan. “iya, dek.. makasih udah ingetin. Jawabku. “oh, ya, Kak. Achan mana?? Tanya Jeje. “oh, Achan.. ? lagi sama cowoknya, Bang Puguh, jalan-jalan kali”. Jawabku santai. “ouh gitu ya, Kak.. Yaudah” “emang knapa??” tanyaku penasaran. “Gapapa, kak.. tadi katannya mau nyari Boneka Stich yang baru, skalian, aku juga mau beli boneka Angry Birds yang baru juga..” cerita Jeje. “oalah.. kirain ada apaan. Lagian kamu ma Achan jangan jajan terus, di tabung uangnya. Cewek-cewek kok demen amat ya belanja?” heran kakak.” Kataku sambil menggeleng-gelenggkan kepala. “ya gitulah cewek, kak” jawab Jeje singkat.

         Tak lama, Teh Melody pulang. “Assalamuallaikum..” salam Teh Melody. Aku pun langsung menghampirinya dan mencim tangan kanannya halus dan wangi. Itulah kesan yang bisa kusampaikan saat itu. “sudah solat dedek??” tanya Teh Melody padaku “sudah, kak. Barusan aja selesai.” Jawabku “kak.. aku ikut seleksibuat masuk Akademi Chelsea, di London” ceritaku “oh, iya?? Kenapa nggak MU aja, Dek??” canda Teh Melody “MU.. aku nggak suka MU kak.. kalo Milan, Inter, saya suka. Sama kaya Ci Stella, saya suka Milan.”—padahal, aku sebenarnya tidak memfavoritkan tim yang menjadi rival team favoritku, Internazionale—jawabku, “haha.. bisa aja kamu, Dek.. kapan seleksinya mulai?? And sapa aja yang ikut?? “lusa, kak. Jam 15.00 di Lapangan Rampal, yang ikut, banyaklah.. tapi, kalo sama temn-temnku ada 11 orang, 12 sama saya.” Belum selesai aku bercerita, Teh Melody menyahut “wah, kaya team bola aja, dek.. hahaha” kata Teh Melody dengan bercanda. “lebih 1 atuh, kak” “iya, dek.. kakak tahu.” Jawab Teh Melody dengan tertawa. Kemudian, sore arinya, Vansyah mengrim sms padaku, dia mengajak latian bersama LionBlues. Dia mengatakan, “latian buat nyiapin single ke-2, Sob. Kalo Still Friend kan udah ke-upload di 4Shared”. “oke, sob. Gue susul lu ntar.” Balasku, kemudian, setelah mandi dan sholat Ashar, aku langsung pergi menuju ke rumah Vansyah—Lead Guitar LionBlues dan Sutradara film di Aremation—saat itu pula ada Achan yang baru pulang dengan Bang Puguh. Karena aku tidak sabar untuk segera emegang stick Drum dan bermain drum di studio, aku hanya menoleh ke Achan dan Bang Puguh yang ada di depan rumah. “Assalamuallaikum!!” teriakku pada Teh Melody, Achan, Jeje dan Bang Puguh. Aku pun segera memacu motorku—dengan kecepatan normal 60Km/Jam—.

         Sesampainya di rumah Vansyah, kami pun masih berbincang tentang single ke-2 itu—yang belum diberi judul—lirik yang baru aku buat kemarin malam, di pakai oleh Vansah sebagai single ke-2 dan di bagian reff, ada penggabungan lirikku dengan lirik buatannya. “ku terpukau oleh senyuman manismu. Aku berkhayal jika saja ku bisa berjalan bersamamu. Tapi kita berdiri di bawah langit yang berbeda. Kau memiliki langit yang berwarna biru, sementara aku, memiliki langit abu-abu. Oh, mungkin seekor Merpati tidak akan pernah bisa jatuh cinta pada seekor Tikus.” Itu lah bagian Reff yang terdapat dalam lirik yang aku buat. Ku buat lirik itu unutk di persembahkan pada sosok Stella Cornelia—gadis cantik yang membuat hari-hariku lebih berwarna dan memberiku motivasi untuk mengarungi kerasnya dan pedhinya kehidupan ini—“Nung.. kenapa lagi, lu?? Kepikiran Stella lagi ya?? Tanya Vansyah. “hah? .. iya nih, Van. Tiap hari kebayang wajahnya terus, seandainya ku bisa memiliki gadis sepertinya, mungkin, hari-hariku akan terasa lebih cerah, berwarna, dan mendung yang hinggap di hati dan pikiranku, akan hilang, tergantikan oleh indahnya pelangi dari cinta dan kasih sayang Stella. Dan hatiku akan sangat bahagia bila saja itu bisa terjadi. Tapi.. semua itu hanyalah mimpi, ku tak bias menggapainya di dunia yang fana ini, aku harap, dia bisa merasakan apa yang kurasakan sekarang, betapa sulitnya seekor Tikus berusaha mendapatkan hati seekor Merpati. Di saat sudah ada Merpati lain yang lebih sempurna untuknya…” mataku mulai berkaca-kaca “waduh.. lu mau nangis, sob?? Sahut Vansyah. “ha..?? kaga.. tadi malem, gue begadang ma kakak gue, nonton Chelsea Vs MU, sob, jadi rada ngantuk sih sekarang”.—aku berusaha menghibur diri, supaya air mataku tidak mengalir di depan temanku—“ouh, iya Nung.. tadi menang 5-4 kan?? Haha.. Revenged has already done” kata Vansyah berusaha menghiburku. “that’s right, bro.. I was very glad with the winning of Chelsea today. It’s such an important things to get, cause, the next match, is against Shaktar Donestk and Liverpool, both of ‘em it’s a great teams I think..” “you’re right, Nung.. how about your sister, Melody’s feeling about the it?? Tanya Vansyah. “I’ve saw she feel a little sad I think, cause she really Loved, MU, especially Wayne Rooney.” kemudian, kami tertawa membahas pertandingan antara Chelsea Vs MU. Kemudian, tak beberapa lama, kami pun berangkat ke Studio, dimana 2 anggota LionBlues yang lain telah menunggu, yaitu, Hakim dan Mustakim. Kami menggarap 3 lagu saat itu, yaitu 2 lagu kami sendiri., yang 1 lagu dari Radiohead – Creep—lagu yang mengisahkan seorang laki-laki yang mencintai seorang gadis yang sangat istimewa baginya, tetapi gadis itu tidak menghiraukan laki-laki itu, sama seperti yang kurasakan—.

         Beberapa hari kemudian, ku dengar Stella putus dengan Adit, tepat di saat seleksi tahap kedua akan dimulai, teman-temanku pun mensupportku untuk aku segera menyarakan cinta pada Stella. “Ayo, Nung.. Gambarimasu! Stella udah nungguin, lu” kata Etsa. “iya tuh, sikat dah. Keburu di sikat orang lho ntar” imbuh Azam. “Semangat, Nung. Cowok harus gentle, man.” Sahut Iwan. Aku pun tidak yakin saat itu, karena masih memikirkan, bagaimana nanti sore aku bias lolos seleksi Akademi Chelsea, dan terbang ke London, bersama teman-temanku. Tak lama, Adit pun dating. “Nung.. gue mau ngobrol bentar ma loe” katanya sopan. “ada apa, Ditt?? “ini masalah Stella, ada kabar bagus buat ente..” jawabnya dengan senyum—tampaknya Adit sudah bias melepaskan kehadiran Stella yang selalu menemani kehidupannya dulu—“gini sob.. gue ngerasa, ada baiknya.. Stella jadian ma loe. Sebenernya, dia udah suka ma loe, tapi, dia cuek aja. Karena dia, ingin melihat seberapa keras perjuanganmu.. untuk bias dapetin hatinya, karena dia, nggak mau seorang cowok yang gak setia dan cumin main-main ke dia. Aku mutusin dia, karena dia lebih sayang ke loe, dia sering nanyain loe ke gue, Bang puguh ma Bang Bhima.” Ucap Adit. Aku hanya menganggukan kepala. “hmm.. kalau seperti itu, berarti kesempatanku ada kan?? Tanyaku. “jelaslah! Tapi, lu harus cepet, karena bukan loe doing yang mau ma Stella, cowo-cowo sini pada kaya Zombie semua kalo udah ngeliatin dia.” Katanya menasehatiku. “oke, sob. Besok, gue tembak dia..” ujarku ragu-ragu bila saja aku di tolaknya. “siip, langsung ke orangnya, jangan pake sms/telpon..” katanya menasehatiku lagi.

        Tanggal 11 November. Tepat hari ultah Nabilah. Vansyah dan Iwan memberikan gift special untuk Nabilah. Begitu juga dengan Azam, Hendra, Adit, Pandu, Bhima, Samsul, aku Etsa, Andika, dan Bang Puguh. Nabilah senang sekali saat itu, sampai dia menangis karena terharu dengan keihklasan dan kebaikan teman temannya padanya. Teh Melody, Stella, Achan dan Jeje. Juga memberikan hadiah. Tetapi di saat yang berbeda—di tempat latian dance mereka—hari ini juga ada seleksi tahap kedua dimulai, mulai dari test Dribbling, Endurance, Shooting, Team Working, Passing, dan sebaginya. Kami semua berusaha memberikan yang terbaik. Tetapi saat itu, Etsa, Azam, Pandu, Andika, Adit, Hendra sedang menyiapkan diri untuk ,mengikuti Ujian Akhir Semester—UAS—Sementara, Bang Puguh dan Bhima, sedang sibuk mengerjakan tugas-tugas kuliah yang menumpuk, belum lagi tugas skripsi yang telah menunggu mereka, begitupun juga dengan Kakakku Melody dan Kak VE. Rasanya sepi, tanpa kehadiran mereka. Tapi, seleksi harus tetap berlanjut. Dan aku teringat Stella saat itu, yang membuat konsentrasiku buyar, dan sempat beberapa kali, Head Coach memarahiku, “Gunung!! Kamu niat main atau tidak?? Kamu bermain seperti andak kecil saja!! Lebih baik kamu keluar dari seleksi ini!!” teriak Head Coach. “maaf, pak. Saya akan berusaha lebih baik lagi” jawabku dengan gemetaran. Setelah berusaha keras untuk tidak memikirkan Stella sejenak. Aku merasa permainanku jauh lebih baik daripada di awal tadi. Dan sedikit demi sedikit, aku mulai enjoy dengan menu seleksi itu. Dan tahap ke-3—seleksi lebih ketat di Jakarta, dan hanya ada 7 orang yang dipilih, kemudian, di saring menjadi 4 orang saja yang berangkat menuju London—“yang lolos dalam seleksi tahap ke-2 ini, ada 15 orang.” Assisten Coach mengumumkan nama-nama pesera yang berhasil lolos. Dan bersamaan dengan matahari sore yang akan terbenam—waktu menunjukkan pukul 17.10 WIB. Vansyah, Iwan dan Samsul sudah di panggil lebih dahulu. Dan mereka berhak menuju seleksi di Jakarta. “1 orang lagi akan kami diskusikan lagi. Dan besok akan di publikasikan”—karena ada 5 orang lagi yang harus di saring untuk mengisi 1 kuota menjadi 15 orang—jantungku berdebar-debar, keringat meluncur deras, hatiku gelisah, dan aku pulang dengan perasaan tak tenang. Hampir menangis aku saat di perjalanan pulang, untung sudah ada Teh Melody di depan rumah, yang sudah menungguku cukup lama—saat itu Adzan Mahrib sudah berkumandang—dan dia sudah tahu apa yang aku rasakan.

           Teh Melody berusaha menghiburku. Teh Melody lah kakak yang paling perhatian terhadapku, dia memelukku saat itu—melalui sms—dia memelukku cukup lama dan mataku perlahan meneteskan air mata, tapi segera ku hapus. Malam itu Teh Melody menghiburku. Lalu, Stella menelponku. Memintaku menemuinya. “kak.. Stella telpon. Dia ngajakin aku ketemuan..” ceritaku. “hmm.. iya dah.. samperin gih.. ati-ati ya” jawabnya dengan senyum manis menggetarkan hati. Aku segera menuju taman dekat rumah Stella—dia memintaku kesana—jam tepat menunjukkan pukul 19.00 WIB. Lampu terlihat cukup terang menyinari bangku taman tempat Stella duduk sendirian. Aku puhn menghampirinya, “hai, Stella..” sapaku. Tiba-tiba dia langsung memelukku—sehari ini aku heran, kenapa 2 bidadari memelukku. Tapi, aku merasa sangat bahagia—Ternyata, dia menyatakan perasaanya padaku. Dan cukup lama kami mengobrol. Aku pun tidak percaya dan ragu-ragu terhadap Stella yang mengatakan “..aku suka kamu, Gunung” sambil tersenyum malu. Sampai hampir 120 menit kami bersama! “Subhanallah, aku bisa ditemani gadis secantik dia” gumamku. Karena aku kelelahan sehabis seleksi sepak bola, aku pun pulang ke rumah—aku berpamitan dengannya, dan ku cium keningnya yang tertutupi oleh poninya, yang menjadi senjata ampuh menaklukkan hatiku yang sepi ini—sampai, di rumah, ada kedua adikku, Achan dan Jeje yang juga baru pulang berbelanja bersama Bang Puguh, Hendra, Andika, Kak VE, dan Bhima. Jeje berkata, bahwa Head Coach, Darmawan—Head Coach yang ada di Jakarta yang bakal memimpin seleksi tahap ke-3—menelpon dan mencariku. Dan Jeje berkata, bahwa, aku lolos ke Jakarta! “Alhamdulillah..” aku sangat bahagia sehari itu.

         Setelah beberapa hari aku bersama Stella—aku sudah jadian dengannya pada beberapa hari lalu—aku di panggil mengikuti di Jakarta. Kemudian, aku di telponnya, saat aku tengah menggambar dirinya, karena aku ingin memberikan sesuatu yang berbeda untuknya. Walaupun hari ulang tahunnya sudah lewat—3 November 2012—langsung aku angkat teleponnya “Hai, Cici..” sapaku. “Hai, Gunung” sapanya dengan sedikit tertawa senang. “hehe.. ada apa??” Tanyaku penasaran. “aku pengen ngobrol-ngobrol ma kamu..” jawabnya. “Ouh, oke. Dimana enaknya??” “hmm.. alun-alun kota yuk” pintanya. “ouh, oke, Cici. Bye..” aku pun mengepalkan tangan dan berkata “yes!” Tapi, tak lama setelah itu, kurasa perasaanku tidak enak. Dan aku mulai merasakan, ada sesuatu yang tidak beres dengan ajakan Stella kali ini. Di sisi lain, aku mendapat kabar bahwa Kak VE, The Melody, Achan, Jeje, Beby, Ochi, Rena dan Nabilah telah lolos audisi JKT48!! Aku kaget mendengarnya, sekaligus senang sekali. Apalagi Pandu, dia sangat senang, karena Daisukinya—yang mempunyai style Dance yang keren—bisa lolos audisi Sister group dari Jepang, AKB48. Hal itu dirasakan teman-temanku yang lain juga. Mereka bahagia sekali, sekaligus bangga. Rasa sedih dan gundah menghampiri hati mereka. Tapi, hal itu sudah ditutupi oleh rasa bangga dan bahagia. Jadi mereka, sudah ikhlas melepas “Daisuki”—orang yang dicintai/ disukai—masing-masing.

        Keesokan harinya, Stella sudah tampak menungguku dengan menggunakan kaus bertuliskan JKT48 berwarna merah, awalnya, aku kaget, kenapa dia mengenakan kaus itu. “apa mungkin dia juga lolos audisi JKT48 bersama yang lain??” dan ku tengok, dia mengenakan kacamata berwarna biru—kacamata yang dia gunakan ketika perasaannya sedang tidak enak, gelisah, gundah, atau sedih, tapi tetap berusaha untuk tetap tenang dan senang—kemudian, aku langsung menghampirinya. Lalu, aku langsung duduk di samping kanannya, langsung, aku memegang tangan kanannya. “ohayou, kawaii” ucapku dengan senyum. “ouh, kamu! Aku kirain siapa! Jawabnya sedikit kaget. “udah lama nungguin??” tanyaku “nggak kok, aku baru aja datang” jawabnya halus. “oh ya. Mau ngomong apa, Cici?” “hmm.. kamu jangan kaget ya.. jangan sedih ataupun marah ma aku..” jawabnya pelan. “haha? Nggak kok. Tenang aja” jawabku halus. Kemudian dia bercerita, bahwa dia juga lolos audisi JKT48! Dan kaos yang dia pakai itu langsung diberikan pada Member yang sudah dipastikan lolos audisi. Kemudian, aku lihat matanya mulai berkaca-kaca, lalu, perlahan dia menangis, seiring dengan rintik-rintik hujan gerimis yang terjadi saat itu—sambil menunjukkan undangan untuk ke Jakarta, dalam rangka peresmian member JKT48—dia langsung memelukku sambil menangis, “ku nggak mau ninggalin kamu..” jawabnya “iya, aku tahu, tapi aku juga harus.. ke Jakarta untuk seleksi tahap 3 Chelsea Academy” kataku—saat itu kami memang mempunyai undangan ke Jakarta, tapi, dalam jangka waktu yang berbeda pula. Dan aku berangkat 1 minggu setelah Stella berangkat—betapa sedihnya ku lihat wajah cantik Stella di aliri oleh air mata, aku terus berusaha menghapus air mata yang membasahi wajah ‘Kawaiinya’ dengan tangan kananku. Dia kemudian tetap memelukku, seolah tidak mengizinkan aku beranjak dari tempat itu, tepat di sisinya—memang alun-alun Kota saat itu cukup sepi, karena ini adalah hari efektif kerja, dan kami memiliki hari libur saat itu—“sudah, Ci.. Bidadariku gak boleh nangis..” tapi dia tetap meneteskan air mata. “kita kan ntar bisa ketemu lagi, ntar kalokemungkinan terburuk, aku nggak lolos. Aku jemput kamu di Jakarta, ya?” kataku dengan cara menghibur. “janji, ya?” tanyanya “iya.. pasti kok.” Sambil ku elus rambut panjangnya yang halus dan wangi. Hati ini memang sakit bila harus meninggalkan bidadari se-sempurna dia, aku ingin sekali menangis saat itu. Tapi ku berusaha menguatkan hariku. Dia pergi untuk sebuah kesuksesan. Tak ada arti aku harus menahannya pergi.

        Tiba-tiba, hape Stella berbunyi. Adele—Some One Like You—yang menjadi ringtone handphone nya. “Tuh ada telfon, angkat gih” kemudian dia mengangkat telfon tersebut. Itu ternyata dari adiknya, Sonia. “iya, dek? Sekarang berangkatnya?” jawabnya dengan sedikit kaget. “hmm.. sepertinya sudah saatnya aku harus benar-benar melepasnya” gumamku dalam hati. Kemudian dia menutup telponnya. Dia berdiri sejenak di kejauhan—saat Stella menerima telpon tadi, dia bergegas pindah ke tempat yang sepi untuk berbicara dengan Sonia—tak lama kemudian, dia menoleh ke arahku, dan lari menghampiriku. Lalu, dia memegang kedua tanganku, di genggamnya erat-erat. “Gunung..” kalimat itu terlontar dari mulutnya sambil menangis terisak-isak. “..maaf, aku harus pergi sekarang.. kata adekku, bis Member JKT48 sudah dalam perjalanan ke rumah, and aku harus ceper-cepet pulang sekarang” lanjutnya. Aku pun menjawab, walaupun dengan rasa sedih yang mendalam saat itu, “iya.. kalo cuman kata maaf, aku udah maafin kamu, lagian aku nggak pernah, nggak maafin kamu” kemudian aku mengantarnya pulang ke rumahnya. Sesampainya di dekat rumah, sudah ada adiknya, Sonia, yang juga mengenakan kaos kebesaran JKT48 yang berwarna merah. Dan saat itu pula, Sonia sudah bersiap dengan tas dan koper—Bis akan menuju Bandara Juanda, Surabaya, dan kemudian terbang menuju Bandara Soekarno Hatta, Jakarta—Dan bis member JK48 datang menjemput masing-masing Calon Member sesuai dengan Regional yang sudah di tetapkan oleh panitia di bidang transport. “tuh, adikmu udah nungguin” kataku. “iya..” jawabnya singkat, dia masih bersedih saat itu, “..aku bakal selalu merindukanmu” jawabnya pelan, “iya, aku juga kok. Adios dulce senorita Stella ‘Cici’ Cornelia” kemudian, dia berlari sambil mengusap air mata di kedua pipinya, sambil sesekali menoleh ke arahku, sambil melambaikan tangan kanannya. Aku pun hanya bisa menghela nafas melihatnya pergi.. “semoga karirmu dan semua kegiatan yang kamu lakukan bersama Idol Group JKT48, selalu dapat meraih kesuksesan! Amiin.” Doa ku panjatkan dalam hati. “Sayonara Daisuki No Hito, Stella Cornelia” tak lama kemudian, bis berwarna merah, bertuliskan JKT48 di sisi kanan dan kiri bis, datang. Selang beberapa menit setelah aku berdoa tadi. Lalu, kulihat Stella mulai menginjakkan kaki kanannya ke dalam bis—sebelumnya, adiknya masuk ke dalam bis terlebih dahulu—dan menoleh ke arahku sambil melambaikan tangan kanannya lagi, dengan senyuman bercampur tangis. Huuuft.. selamat tinggal, Stella, aku akan selalu menyayangimu, mensupportmu, dan merindukanmu selalu..

         “a hundred days that make me older.. it’s the last time that I saw your pretty face..” itulah salah satu penggalan lirik lagu band asal Amerika Serikat, 3 Doors Down, yang berjudul “Here Without You”. Lagu itu selalu kunyanyikan dengan menggunakan headset, ketika saat di Chelsea Academy usai—aku dan 3 temanku, Vansyah, Samsul dan Iwan akhirnya bisa pergi ke London, Inggris untuk seleksi lagi untuk mendapatkan pos di First Team Chelsea, bersama 28 anak Chelsea Academy—kami pun juga selalu merindukan teman-teman kami, yang selalu berlatih bersama saat berada di Malang dulu, seperti Etsa, Azam, Bang Puguh, Bhima, Pandu, Hendra, Adit, Andika. Begitupun juga dengan The Melody, Kak VE, Jeje, Achan, Beby, Ochi, Sonia, Rena, Shania,Nabilah dan daisuki ku, Stella. Sambil ku pandangi foto yang diberikan Stella padaku, selalu kunyanyikan lagu itu, dan juga lagu Boku No Sakura dari AKB48. Di handphone ku, ada foto-foto Stella saat sebelum dan sesaat bersama member-member JKT48 yang lain, dan foto yang paling berkesan sekaligus menarik, ialah foto saat ulang tahun Nabilah. Di foto itu, ada Stella, Shania, Teh Melody, Sonia, Achan dan Jeje mencium Nabilah di pipi. Sungguh foto yang lucu. Dan tak sedikit pun pikiran negative terlintas di benakku saat ku lihat semua foto-foto yang diambil tepat tanggal 11 November 2012 lalu. Dan foto yang paling kusuka adalah ketika Stella memakai Seifuku biru dan Hitam. Ku sangat merindukannya, ku tak bisa lagi membendung air mataku ketika k pandangi wajah cantiknya itu dengan senyum yang menggetarkan hati beserta mendengarkan lagu 3 Doors Down dan Boku No Sakura. Ku bernanyi, ”I’m here without you, Stella.. But You just still on my lonely mind. I think about you, Stella. And I dream about you all the time..”—kata-kata Baby, ku ganti dengan nama Stella, karena, bisa terjadi kesalahpahaman dengan Pandu nantinya—air mataku perlahan mengalir di kedua pipiku dan sesekali jatuh menetes tepat di foto Stella yang tersenyum manis—dia memberikan foto digital dan foto biasa—senyuman manis yang selalu mewarnai hari-hariku, teringat saat ku dulu bersamanya, menghabiskan waktu berdua bersama, bernanyi, dan bercanda—terutama, saat pertama kali kulihat dia melakukan Shuffle Dance—dan pernah kulihat status di Twitternya, bahwa suatu waktu, dia mengalami kegelisahan yang mendalam, dan kurasa dia merindukkan seseorang. Hingga dia berkata bisa mempunyai nafsu makan yang berkali-kali lipat, jika terus tenggelam di laut kegalauan tersebut. Dan dia juga pernah, mengirimiku sms, kalau, dia sangat merindukanku. Dia bercerita, jika selalu menangis bila teringatku. Stella juga pernah menangis saat berada di Backstage Theater FX, seusai perform, karena merasa keberadaanku sangat ia butuhkan saat itu.

         Ku hanya bisa menyaksikkan aksi panggungnya bersama JKT48 di situs You Tube, seperti saat Mega Konser,di Dahsyat, di OVJ, dan yang terakhir saat perform di Kota Wisata Batu, Malang—tepatnya di Secret Zoo, Jatim Park II—Aku sangat ingin bertemu dengannya lagi, memeluknya mengobrol dengannya, menatap kedua matanya lagi, dan melakukan hal positif lainnya bersama Stella, seperti membuat lirik lagu, menggambar, dan lain sebagainya. Tapi itu semua hanya mimpi, ku sudah tak bisa lagi dekat dengannya. Ku hanya bisa mengagumi keindahannya melalui melalui rekaman video, foro, atau kabar yang kulihat/kudengar melalui Media Sosial. Kini JKT48 sangatlah sukses, dan sudah memiliki fans dimana-mana dengan yel-yel mereka—atau biasa disebut Chant Mix—fans JKT48 sendiri juga dikenal fans yang paling kompak di Indonesia—diluar konteks persepakbolaan nasional—fans mereka dikenal dengan sebutan, “WOTA”. Gedung Theater pun mereka sudah miliki, seperti Sister Group mereka di Jepang, AKB48. Lokasi gedung tersebut ada di Mall FX, Jalan Sudirman, Jakarta—aku tidak seberapa menghafal alamat Tempat theater itu—ku harap ku bisa menjumpainya lagi, walaupun hanya sekali. Dan aku salut dengan kerja kerasnya selama ini. Impiannya terkabul. Menjadi seorang Dancer, Penyanyi dan Model. Tapi, aku harus tetap focus melahap semua menu latihan di Chelsea Academy. Untuk meraih impianku bermain bersama tim London Biru, Chelsea! Bermain di lapangan hijau Stadion Stamford Bridge, kebanggaan para True Blue—fans fanatic team Chelsea—aku sempat menulis status di Twitter dan Facebook, yang bertuliskan, “Arigatou Gozaimasu @Stella JKT48, kau telah memberikanku motivasi hidup dan menginspirasiku, sehingga aku bisa berada di London untuk menggapai cita-citaku bersama teman-temanku disini dan kawan-kawan dari berbagai Negara lain, khususnya Benua Eropa”. Stella telah benar-benar mengajariku bagaimana usaha keras dan kemauan untuk maju sangatlah penting untuk meraih kesuksesan. Aku selalu berdoa agar dia selalu di beri kesehatan, keamanan, ketenangan hati, dan kesuksesan tentunya. Di setip langkah kehidupan yang di jalaninya. Amiin. Aittakata Cici Stella Cornelia JKT48! Dan selalu ku ingat kata-kata “Dengan senyum, aku akan menaklukkan dunia! Hai, namaku Stella!”.

Gunung Ma hendra
@GunungCornelia

0 comments:

Poskan Komentar